Info Seputar Wakaf

Pengertian dan Sejarah Wakaf

Wakaf adalah ibadah yang sangat dianjurkan di dalam agama Islam karena dapat mendatangkan pahala yang berkelanjutan sekaligus memiliki dampak sosial melalui kebaikan yang diberikan kepada sesama manusia. Ibadah wakaf merupakan salah satu bentuk amal sedekah jariyah atau infak yang dilakukan dengan cara menahan keberadaan, nilai atau kepemilikan dari suatu harta benda dan mensedekahkan manfaat atau hasil yang diperoleh dari pengelolaan harta benda tersebut untuk diberikan kepada penerimanya (mauquf 'alaih) sesuai dengan ketentuan syariah.

Dalam sejarah Islam, ibadah wakaf disyariatkan pertama kali pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu menceritakan tentang kisah ayahnya Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu yang pernah menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata "Aku mendapatkan harta dan belum pernah aku mendapatkan harta yang lebih berharga darinya. Bagaimana Tuan memerintahkan aku tentangnya?" Beliau bersabda: "Jika kamu mau, kamu pelihara pohon-pohoinnya lalu kamu shadaqahkan (hasil) nya". (HR. Bukhari & Muslim)

Karya intelektual bukanlah hal baru di dalam agama Islam, banyak sekali warisan kitab-kitab klasik yang masih bisa kita baca hingga saat ini sebagai buah hasil karya intelektual dari para ulama terdahulu seperti contohnya yang sangat fenomenal adalah Kitab Al-Muwatta karya Imam Malik, Ar-Risalah karya imam Syafi'i atau Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi. Bahkan sebagian kitab-kitab tersebut saat ini sudah dalam bentuk digital seperti yang dibungkus dalam format perangkat lunak Maktabah Syamilah yang sangat populer dikalangan akademisi.



Dasar Hukum dan Peraturan Wakaf

Setiap ibadah di dalam agama Islam harus memiliki dalil sebagai landasan hukum yang mendasarinya, ayat Al-Quran yang menjadi dasar hukum ibadah wakaf salah satu diantaranya adalah yang artinya “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai.” (Q.S. Ali Imran (3): 92). Sedangkan sumber hukum hadist yang menjadi dalil salah satunya diantaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ketika seseorang meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya (untuk orang tuanya yang meninggal). (HR. Muslim)

Ketentuan yang berkaitan dengan wakaf di Indonesia secara umum diatur melalui Undang Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, di pasal 16 ayat 3 menyebutkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dapat dijadikan sebagai salah satu harta benda wakaf jenis benda bergerak yang tidak bisa habis karena dikonsumsi. Karya intelektual tidak hanya berupa tulisan atau riset ilmiah saja, namun di era teknologi saat ini karya intelektual dapat dihasilkan dalam bentuk digital seperti gambar, foto, video, poster, template, platform, software, aplikasi mobile dan lainnya. Semua bentuk karya digital tersebut dapat dimanfaatkan langsung atau dikelola menjadi wakaf produktif yang hasilnya dapat disalurkan untuk kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat.

Unsur dan Syarat Wakaf.

Menurut Undang Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf pasal 6, terdapat enam (6) unsur harus dipenuhi dalam tata cara pelaksanaan ibadah wakaf di Indonesia, yaitu:

  • Wakif, pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.
  • Nazhir, pihak yang mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf.
  • Aset Wakaf, harta benda wakaf yang memiliki nilai manfaat sesuai dengan ketentuan syariah.
  • Ikrar Wakaf, pernyataan kehendak wakif secara tertulis atau lisan dalam mewakafkan harta bendanya.
  • Penerima Manfaat (Mauquf 'Alaih), pihak yang menerima manfaat dari harta benda wakaf.
  • Jangka Waktu, perjanjian durasi lama waktu harta benda dijadikan aset wakaf.

Jenis Klasifikasi Wakaf



Wakaf Digital Karya Intelektual

Keutamaan berwakaf karya intelektual sangat besar karena mencangkup dua amalan sekaligus, yaitu sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat di saat yang bersamaan. Sebagai salah satu alternatif dalam berwakaf, menghasilkan produk intelektual dapat dilakukan oleh siapa saja dengan mudah, tidak harus berupa uang atau tanah. Dengan format digital, produk karya intelektual lebih mudah untuk diterima oleh penerima manfaat baik dengan cara akses terhadap aset secara langsung atau melalui program pengelolaan agar menjadi aset yang produktif.

Seperti halnya dengan wakaf uang, aset karya intelektual dapat juga dihasilkan dengan cara bergotong-royong atau kolaboratif, setiap wakif dapat memberikan karya intelektual terbaiknya sesuai dengan bidang dan keahliannya masing-masing. Bahkan bisa dilakukan juga dengan model wakaf melalui uang, yaitu dengan cara membeli kepemilikan atau lisensi dari sebuah produk digital tertentu dan mewakafkannya untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat umum.